Inilah Risiko-risiko KPR Tanpa Uang Muka

Untuk mempermudah masyarakat memiliki tempat tinggal maka bank-bank yang ada di Indonesia baik itu Bank Syariah maupun Bank Konvensional menawarkan program KPR dengan skema pembiayaan yang cukup beragam,  mulai dari cicilan tetap, uang muka hingga jangka waktu nya.

Bahkan ada juga Bank yang menawarkan program KPR tanpa uang muka, masyarakat harus memperhatikan beberapa hal mengenai program KPR tanpa uang muka ini. Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Maurin Sitorus memberikan beberapa penjelasan seperti yang dilansir pada halaman Kompas Ekonomi.

Resiko KPR tanpa Dp
Resiko KPR tanpa Dp

Pertama, mengenai Komitmen Kepemilikan Rumah , Apabila Kredit KPR itu tanpa DP maka owner ownership debitur kredit rumah menjadi rendah. Hal itu juga terkait dengan aspek kedua yaitu besaran cicilan dan kemampuan membayar dari debitur itu sendiri dan apabila tanpa DP maka secara otomatis cicilan kredit akan semakin besar.

Contohnya misalkan, anda ingin mengajukan kredit rumah sebesar Rp 100 juta dengan DP 30% atau (Rp30 Juta) maka sisa yang harus anda angsur adalah sebesar Rp70 juta, maka bunga KPR lima persen dari Rp 70 juta sekitar Rp 3,5 juta dengan tenor 15 tahun (misalkan) maka debitur harus mencicil sebesar Rp 408.334 per bulan (Rp 73,5 juta dibagi 180 bulan).

Akan tetapi apabila anda mengajukan KPR dengan skema kredit tanpa DP, maka beban bunganya saja sudah berbeda, yaitu 5 persen dikalikan Rp 100 juta atau sebesar Rp 5 juta. Sehingga dengan asumsi tenor yang sama 15 tahun, maka debitur harus mencicil sebesar Rp 583.334 per bulan (Rp 105 juta dibagi 180 bulan). Memang menangnya anda tidak perlu mengumpulkan uang 30% untuk DP nya.

Menurut Maurin, kredit rumah dengan cicilan yang lebih tinggi maka akan menimbulkan masalah nantinya, karena ketentuan besaran cicilan itu 35% dari pendapatan. Mengapa hanya 35%, karena setiap anda punya kebutuhan lain seperti biaya hidup, biaya sekolah anak dan lainnya.

Apabila anda mengajukan KPR dengan cicilan diatas 35% dari pendapatan, maka ketika anda ada tanggungan untuk biaya pendidikan dan cicilan rumah yang mahal maka anda akan memperiortias kan untuk bayar sekolah, sehingga cicilan rumah diatas 35% dari pendapatan tersebut akan menimbulkan masalah kredit macet.

Ketika kredit macet maka selain anda, bank pun akan memiliki masalah dan juga menimbulkan perekonomian menjadi masalah juga. Memang terlihat sepele dan simpel tapi bisa menjadi rumit ketika itu terjadi.

Bagaimana jika tenor atau jangka waktu pinjaman lebih panjang, misal menjadi 30 tahun. Sehingga cicilannya menjadi lebih ringan?

Nantinya hal itu tentu saja akan berpengaruh terhadap hitung-hitungan besaran cicilan. Namun, perlu diperhatikan juga kondisi atau daya tahan perbankan dalam hal pembiayaan dan risikonya. Perbankan akan dikontrol ketat, rasio kredit macet enggak boleh tiga persen, harus di bawah itu. Jadi, itu (program) harus ekstra hati-hati menetapkan.



Silahkan Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.