9 Prinsip Dasar Asuransi Syariah

Prinsip Dasar Asuransi Syariah

Untuk melindungi atau memproteksi diri dan keluarga maka banyak para pakar ekonomi menyarankan kepada kita untuk mengikuti asuransi. Namun, kita tahu banyak sekali jenis asuransi yang ada di Indonesia, ada asuransi konvensional dan asuransi syariah mulai dari Asuransi Manulife, Asuransi Prudential, Asuransi Axa Mandiri, dan banyak yang lainnya.

Setiap asuransi memiliki prinsip dasar termasuk dalam asuransi syariah, mungkin bagi anda yang ingin mengetahui prinsip dasar yang digunakan dalam Asuransi Syariah adalah seperti yang akan kami jelaskan dibawah ini. Anda bisa menggunakan pengertian istilah – istilah berikut sebagai tinjauan pustaka dalam skripsi atau makalah yang sedang anda buat.

1. Prinsip Tauhid (Unity) merupakan prinsip utama yang digunakan oleh setiap aktivitas kehidupan manusia. Tauhid sendiri memiliki arti segala sesuatunya harus mencerminkan nilai-nilai ketuhanan, sebagai hukum yang mendasari untuk tidak menentang Allah SWT.

2. Keadilan (justice) ini merupakan Prinsip kedua yang digunakan oleh Asuransi Syariah yaitu harus memenuhi nilai-nilai keadilan antara pihak-pihak yang terikat dengan akad asuransi. Tujuannya untuk dapat memahami hak dan kewajiban antara nasabah dan perusahaan (saling sepakat).

3. Tolong-menolong (ta’awun), prinsip selanjutnya yaitu harus memiliki dasar saling Tolong-Menolong antara anggota. Seseorang yang bergabung dalam program asuransi syariah, harus memiliki niat dan motivasi untuk membantu dan meringankan beban anggota lain yang suatu ketika mendapatkan musibah.

4. Kerja sama (cooperation), dalam literatur ekonomi islam selalu dan harus ada prinsip kerjasama. Sehingga sebagai makluk yang berakal di muka bumi ini dapat hidup bersama dengan damai dan makmur, karena memang manusia merupakan makhluk individu dan makhluk sosial.

5. Amanah (trustworthy), prinsip ini digunakan untuk dapat mewujudkan saling percaya dimana perusahaan dapat menyajikan laporan keuangan secara transparan kepada nasabah. Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi harus mencerminkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan dalam bermuamalah dan melalui auditor public.

6. Kerelaan (al-ridha) Setiap nasabah Asuransi Syariah harus bisa ridho / rela untuk menyetorkan sejumlah dana sebagai premi yang menjadi kewajiban untuk diserahkan kepada perusahaan asuransi yang akan difungsikan sebagai dana sosial. Dan dana sosial memang betul-betul digunakan untuk tujuan membantu anggota (nasabah) asuransi yang lain jika mengalami bencana kerugiaan.

7. Larangan riba Ada beberapa bagian dalam al-Qur’an yang melarang pengayaan diri dengan cara yang tidak dibenarkan. Islam menghalalkan perniagaan dan melarang riba.

8. Larangan maisir (judi) yaitu salah satu pihak ada yang diuntungkan namun di lain pihak justru merasa dirugikan. Hal ini tampak jelas apabila pemegang polis dengan sebab-sebab tertentu membatalkan kontraknya sebelum masa reversing period, biasanya tahun ketiga maka yang bersangkutan tidak akan menerima kembali uang yang telah dibayarkan kecuali sebagaian kecil saja. Juga adanya unsure keuntungan yang dipengaruhi oleh pengalaman underwriting, di mana untung-rugi terjadi sebagai hasil dari ketetapan.

9. Larangan gharar (ketidak pastian) atau bisa juga disebut adanya Unsur Penipuan yaitu suatu tindakan yang di dalamnya diperkirakan tidak ada unsur kerelaan.