Di Indonesia terdapat banyak sekali bank namun pada prinsipnya bank ada 2 jenis yaitu Bank Konvensional dan Bank Syariah.  Ternyata masih ada orang yang belum tahu perbedaan yang ada diantara kedua jenis bank tersebut. Maka dari itu disini kami akan menyampaikan 5 perbedaan Bank yang paling mendasar.Kebanyakan orang bingung pada istilah-istrilah dan prinsip dasar yang digunakan masing-masing bank, untuk membantu anda dapat mengetahui perbedaan dari kedua jenis bank tersebut, berikut ini 5 perbedaan yang paling mendasar yang perlu anda perhatikan. [caption id="attachment_5732" align="aligncenter" width="735"]Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional[/caption]1. Akad / Perjanjian / TransaksiPada Bank syariah semua jenis transaksi atau akad harus mengacu pada prinsip syariah islam yang berdasarkan pedoman Kitab Suci Al-Quran dan Alhadist dan telah difatwakan oleh MUI. Beberapa jenis Akad yang digunakan Bank Syariah diantaranya :
  • akad al-mudharabah (bagi hasil),
  • al-musyarakah (perkongsian),
  • al-musaqat (kerja sama tani),
  • al-ba’i (bagi hasil),
  • al-ijarah (sewa-menyewa), dan
  • al-wakalah (keagenan).
Sedangkan untuk Bank Konvensional surat penjanjian dibuat berdasarkan hukum positif yang sedang berlaku di Indonesia bahkan mengacu pada prinsip bank dunia.2. Keuntungan yang didapatPada Bank Syariah penawaran keuntungan kepada nasabah disebut dengan Nisbah atau Bagi Hasil, dengan pembagian yang telah disepakati dari keuntungan yang didapat oleh Bank Syariah. Sehingga Nasabah untung Bank juga diuntungkan. Baik itu dalam produk pembiayaan maupun Simpanan. Sementara Pada bank konvensional untuk memberikan keuntungan adalah menggunakan sistem Bunga berdasarkan jumlah uang yang di simpan (jika orang itu menabung), atau bank mendapatkan keuntungan dari bunga uang yang dipinjam (jika orang itu mengajukan pinjaman).3. Pengelolaan DanaPengelolaan uang nasabah di Bank Syariah akan dialokasikan pada unit bisnis yang juga jelas tidak melanggar hukum islam, tidak boleh untuk perdagangan barang haram, untuk perjudian, manipulasi, trading forex dll. Begitu juga ketika nasabah mengajukan pembiayaan maka harus jelas kemana uang itu akan digunakan. Sementara Bank Konvensional akan menyalurkan uang nasabah tanpa harus mengetahui dari mana atau untuk apa uang tersebut disalurkan, yang penting ada keuntungan. Begitu juga jika nasabah mengajukan pinjaman, yang penting debitur membayar cicilan pinjamannya tepat waktu, jika terlambat akan dikenakan denda.4. Hubungan Bank & NasabahTerdapat beberapa hal yang menjadi pembeda antara bank syariah dan bank konvensional yaitu dalam hubungan bank dan nasabah. Di Bank Syariah nasabah diperlakukan sebagai Mitra, yang diikat dalam sebuah Akad yang jelas dan transparan. Sedangkan Pada bank konvensional, hubungan nasabah dan bank lebih pada hubungan kreditur dan debitur atau hubungan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman. Namun akhir-akhir ini mereka juga berusaha untuk memperkuat hubungan dengan nasabah.5. Cicilan KreditBank Syariah menerapkan sistem cicilan dnegan jumlah tetap berdasarkan keuntungan yang telah disepakati antara bank dengan nasabah pada saat akad kredit berlangsung. Apabila nasabah tidak bisa mencicil atau kredit macet maka ada keleluasaan dari bank syariah yang telah dirembuk bersama. Sedangkan untuk Bank Konvensional menerapkan sistem suku bunga berdasarkan dengan pinjaman. Misal : anda pinjam uang 20 juta dan dikenakan bunga 30%. Berarti anda harus mencicil sebesar Rp26 juta selama jangka waktu tertentu dan jika tidak dibayar maka akan dikenakan denda sekian persen perbulannya.

yang paling mendasar.Kebanyakan orang bingung pada istilah-istrilah dan prinsip dasar yang digunakan masing-masing bank, untuk membantu anda dapat mengetahui perbedaan dari kedua jenis bank tersebut, berikut ini 5 perbedaan yang paling mendasar yang perlu anda perhatikan. [caption id="attachment_5732" align="aligncenter" width="735"]Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional[/caption]1. Akad / Perjanjian / TransaksiPada Bank syariah semua jenis transaksi atau akad harus mengacu pada prinsip syariah islam yang berdasarkan pedoman Kitab Suci Al-Quran dan Alhadist dan telah difatwakan oleh MUI. Beberapa jenis Akad yang digunakan Bank Syariah diantaranya :
  • akad al-mudharabah (bagi hasil),
  • al-musyarakah (perkongsian),
  • al-musaqat (kerja sama tani),
  • al-ba’i (bagi hasil),
  • al-ijarah (sewa-menyewa), dan
  • al-wakalah (keagenan).
Sedangkan untuk Bank Konvensional surat penjanjian dibuat berdasarkan hukum positif yang sedang berlaku di Indonesia bahkan mengacu pada prinsip bank dunia.2. Keuntungan yang didapatPada Bank Syariah penawaran keuntungan kepada nasabah disebut dengan Nisbah atau Bagi Hasil, dengan pembagian yang telah disepakati dari keuntungan yang didapat oleh Bank Syariah. Sehingga Nasabah untung Bank juga diuntungkan. Baik itu dalam produk pembiayaan maupun Simpanan. Sementara Pada bank konvensional untuk memberikan keuntungan adalah menggunakan sistem Bunga berdasarkan jumlah uang yang di simpan (jika orang itu menabung), atau bank mendapatkan keuntungan dari bunga uang yang dipinjam (jika orang itu mengajukan pinjaman).3. Pengelolaan DanaPengelolaan uang nasabah di Bank Syariah akan dialokasikan pada unit bisnis yang juga jelas tidak melanggar hukum islam, tidak boleh untuk perdagangan barang haram, untuk perjudian, manipulasi, trading forex dll. Begitu juga ketika nasabah mengajukan pembiayaan maka harus jelas kemana uang itu akan digunakan. Sementara Bank Konvensional akan menyalurkan uang nasabah tanpa harus mengetahui dari mana atau untuk apa uang tersebut disalurkan, yang penting ada keuntungan. Begitu juga jika nasabah mengajukan pinjaman, yang penting debitur membayar cicilan pinjamannya tepat waktu, jika terlambat akan dikenakan denda.4. Hubungan Bank & NasabahTerdapat beberapa hal yang menjadi pembeda antara bank syariah dan bank konvensional yaitu dalam hubungan bank dan nasabah. Di Bank Syariah nasabah diperlakukan sebagai Mitra, yang diikat dalam sebuah Akad yang jelas dan transparan. Sedangkan Pada bank konvensional, hubungan nasabah dan bank lebih pada hubungan kreditur dan debitur atau hubungan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman. Namun akhir-akhir ini mereka juga berusaha untuk memperkuat hubungan dengan nasabah.5. Cicilan KreditBank Syariah menerapkan sistem cicilan dnegan jumlah tetap berdasarkan keuntungan yang telah disepakati antara bank dengan nasabah pada saat akad kredit berlangsung. Apabila nasabah tidak bisa mencicil atau kredit macet maka ada keleluasaan dari bank syariah yang telah dirembuk bersama. Sedangkan untuk Bank Konvensional menerapkan sistem suku bunga berdasarkan dengan pinjaman. Misal : anda pinjam uang 20 juta dan dikenakan bunga 30%. Berarti anda harus mencicil sebesar Rp26 juta selama jangka waktu tertentu dan jika tidak dibayar maka akan dikenakan denda sekian persen perbulannya. %0A%0A https://www.infoperbankan.com/umum/5-perbedaan-antara-bank-syariah-dan-konvensional-yang-paling-mendasar.html">
WhatsApp

Di Indonesia terdapat banyak sekali bank namun pada prinsipnya bank ada 2 jenis yaitu Bank Konvensional dan Bank Syariah.  Ternyata masih ada orang yang belum tahu perbedaan yang ada diantara kedua jenis bank tersebut. Maka dari itu disini kami akan menyampaikan 5 perbedaan Bank yang paling mendasar.

Kebanyakan orang bingung pada istilah-istrilah dan prinsip dasar yang digunakan masing-masing bank, untuk membantu anda dapat mengetahui perbedaan dari kedua jenis bank tersebut, berikut ini 5 perbedaan yang paling mendasar yang perlu anda perhatikan.

Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional
Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional

1. Akad / Perjanjian / Transaksi

Pada Bank syariah semua jenis transaksi atau akad harus mengacu pada prinsip syariah islam yang berdasarkan pedoman Kitab Suci Al-Quran dan Alhadist dan telah difatwakan oleh MUI. Beberapa jenis Akad yang digunakan Bank Syariah diantaranya :

  • akad al-mudharabah (bagi hasil),
  • al-musyarakah (perkongsian),
  • al-musaqat (kerja sama tani),
  • al-ba’i (bagi hasil),
  • al-ijarah (sewa-menyewa), dan
  • al-wakalah (keagenan).

Sedangkan untuk Bank Konvensional surat penjanjian dibuat berdasarkan hukum positif yang sedang berlaku di Indonesia bahkan mengacu pada prinsip bank dunia.

2. Keuntungan yang didapat

Pada Bank Syariah penawaran keuntungan kepada nasabah disebut dengan Nisbah atau Bagi Hasil, dengan pembagian yang telah disepakati dari keuntungan yang didapat oleh Bank Syariah. Sehingga Nasabah untung Bank juga diuntungkan. Baik itu dalam produk pembiayaan maupun Simpanan.

Sementara Pada bank konvensional untuk memberikan keuntungan adalah menggunakan sistem Bunga berdasarkan jumlah uang yang di simpan (jika orang itu menabung), atau bank mendapatkan keuntungan dari bunga uang yang dipinjam (jika orang itu mengajukan pinjaman).

3. Pengelolaan Dana

Pengelolaan uang nasabah di Bank Syariah akan dialokasikan pada unit bisnis yang juga jelas tidak melanggar hukum islam, tidak boleh untuk perdagangan barang haram, untuk perjudian, manipulasi, trading forex dll. Begitu juga ketika nasabah mengajukan pembiayaan maka harus jelas kemana uang itu akan digunakan.

Sementara Bank Konvensional akan menyalurkan uang nasabah tanpa harus mengetahui dari mana atau untuk apa uang tersebut disalurkan, yang penting ada keuntungan. Begitu juga jika nasabah mengajukan pinjaman, yang penting debitur membayar cicilan pinjamannya tepat waktu, jika terlambat akan dikenakan denda.

4. Hubungan Bank & Nasabah

Terdapat beberapa hal yang menjadi pembeda antara bank syariah dan bank konvensional yaitu dalam hubungan bank dan nasabah. Di Bank Syariah nasabah diperlakukan sebagai Mitra, yang diikat dalam sebuah Akad yang jelas dan transparan.

Sedangkan Pada bank konvensional, hubungan nasabah dan bank lebih pada hubungan kreditur dan debitur atau hubungan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman. Namun akhir-akhir ini mereka juga berusaha untuk memperkuat hubungan dengan nasabah.

5. Cicilan Kredit

Bank Syariah menerapkan sistem cicilan dnegan jumlah tetap berdasarkan keuntungan yang telah disepakati antara bank dengan nasabah pada saat akad kredit berlangsung. Apabila nasabah tidak bisa mencicil atau kredit macet maka ada keleluasaan dari bank syariah yang telah dirembuk bersama.

Sedangkan untuk Bank Konvensional menerapkan sistem suku bunga berdasarkan dengan pinjaman. Misal : anda pinjam uang 20 juta dan dikenakan bunga 30%. Berarti anda harus mencicil sebesar Rp26 juta selama jangka waktu tertentu dan jika tidak dibayar maka akan dikenakan denda sekian persen perbulannya.



yang paling mendasar.Kebanyakan orang bingung pada istilah-istrilah dan prinsip dasar yang digunakan masing-masing bank, untuk membantu anda dapat mengetahui perbedaan dari kedua jenis bank tersebut, berikut ini 5 perbedaan yang paling mendasar yang perlu anda perhatikan. [caption id="attachment_5732" align="aligncenter" width="735"]Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional[/caption]1. Akad / Perjanjian / TransaksiPada Bank syariah semua jenis transaksi atau akad harus mengacu pada prinsip syariah islam yang berdasarkan pedoman Kitab Suci Al-Quran dan Alhadist dan telah difatwakan oleh MUI. Beberapa jenis Akad yang digunakan Bank Syariah diantaranya :
  • akad al-mudharabah (bagi hasil),
  • al-musyarakah (perkongsian),
  • al-musaqat (kerja sama tani),
  • al-ba’i (bagi hasil),
  • al-ijarah (sewa-menyewa), dan
  • al-wakalah (keagenan).
Sedangkan untuk Bank Konvensional surat penjanjian dibuat berdasarkan hukum positif yang sedang berlaku di Indonesia bahkan mengacu pada prinsip bank dunia.2. Keuntungan yang didapatPada Bank Syariah penawaran keuntungan kepada nasabah disebut dengan Nisbah atau Bagi Hasil, dengan pembagian yang telah disepakati dari keuntungan yang didapat oleh Bank Syariah. Sehingga Nasabah untung Bank juga diuntungkan. Baik itu dalam produk pembiayaan maupun Simpanan. Sementara Pada bank konvensional untuk memberikan keuntungan adalah menggunakan sistem Bunga berdasarkan jumlah uang yang di simpan (jika orang itu menabung), atau bank mendapatkan keuntungan dari bunga uang yang dipinjam (jika orang itu mengajukan pinjaman).3. Pengelolaan DanaPengelolaan uang nasabah di Bank Syariah akan dialokasikan pada unit bisnis yang juga jelas tidak melanggar hukum islam, tidak boleh untuk perdagangan barang haram, untuk perjudian, manipulasi, trading forex dll. Begitu juga ketika nasabah mengajukan pembiayaan maka harus jelas kemana uang itu akan digunakan. Sementara Bank Konvensional akan menyalurkan uang nasabah tanpa harus mengetahui dari mana atau untuk apa uang tersebut disalurkan, yang penting ada keuntungan. Begitu juga jika nasabah mengajukan pinjaman, yang penting debitur membayar cicilan pinjamannya tepat waktu, jika terlambat akan dikenakan denda.4. Hubungan Bank & NasabahTerdapat beberapa hal yang menjadi pembeda antara bank syariah dan bank konvensional yaitu dalam hubungan bank dan nasabah. Di Bank Syariah nasabah diperlakukan sebagai Mitra, yang diikat dalam sebuah Akad yang jelas dan transparan. Sedangkan Pada bank konvensional, hubungan nasabah dan bank lebih pada hubungan kreditur dan debitur atau hubungan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman. Namun akhir-akhir ini mereka juga berusaha untuk memperkuat hubungan dengan nasabah.5. Cicilan KreditBank Syariah menerapkan sistem cicilan dnegan jumlah tetap berdasarkan keuntungan yang telah disepakati antara bank dengan nasabah pada saat akad kredit berlangsung. Apabila nasabah tidak bisa mencicil atau kredit macet maka ada keleluasaan dari bank syariah yang telah dirembuk bersama. Sedangkan untuk Bank Konvensional menerapkan sistem suku bunga berdasarkan dengan pinjaman. Misal : anda pinjam uang 20 juta dan dikenakan bunga 30%. Berarti anda harus mencicil sebesar Rp26 juta selama jangka waktu tertentu dan jika tidak dibayar maka akan dikenakan denda sekian persen perbulannya. %0A%0A https://www.infoperbankan.com/umum/5-perbedaan-antara-bank-syariah-dan-konvensional-yang-paling-mendasar.html">
WhatsApp
Previous articleBagi anda yang ingin mendapatkan hadiah saat membuka rekening tabungan maka buka saja tabungan siaga di Bank Bukopin karena Bukopin memiliki program Nabung Seru berhadiah langsung. Hadiah yang disiapkan mulai dari Mobil Pajero Sport, Motor Yamaha Nmax dan hadiah menarik lainnya yang bisa dibawa pulang oleh nasabah yang memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Untuk bisa mengikuti program nabung seru tentunya anda harus sudah menjadi nasabah bukopin yang memiliki rekening tabungan siaga, syaratnya anda harus menempatkan dana selama jangka waktu tertentu yaitu mulai jangka waktu 6 bulan hinggga 6 tahun sesuai dengan ketentuan yang berlaku. [caption id="attachment_5726" align="aligncenter" width="773"]Tabungan Berhadiah Langsung Tabungan Berhadiah Langsung[/caption] “Jika nasabah sudah memenuhi prosedur (cara mainnya) maka akan langsung mendapatkan hadiah yang telah ditentukan mulai hadiah yang paling kecil yaitu berupa gadget / smartphone, hingga sebuah mobil mewah Pajero Sport” untuk itu buka tabungan siaga dan simpan dana anda sebesar mungkin.“hadiah akan diterima nasabah dalam waktu 3 hari setelah nasabah menabung dan mengikuti prosedur”.Launching program nabung seru bukopin dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia dan diyakini dapat mendongkrak nasabah Bank Bukopin. Untuk membuka rekening tabungan siaga bank bukopin maka lengkapi beberapa persyaratan yaitu :
  • Tabungan SiAga khusus diperuntukkan bagi nasabah perorangan.
  • Mengisi dan menandatangani formulir aplikasi pembukaan Tabungan SiAga.
  • Menyerahkan fotokopi identitas diri (KTP/SIM/Paspor).
  • Setoran Awal minimal Rp2 juta.
Sekedar informasi tambahan, nasabah akan dikenakan biaya administrasi sebesar Rp.7500,- perbulan. Biaya administrasi akan diambil dari saldo tabungan yang masih mengendap didalam rekening. Untuk keterangan lebih lanjut anda dapat menghubungi call center bank bukopin di 14005
Next articleUntuk mempermudah masyarakat memiliki tempat tinggal maka bank-bank yang ada di Indonesia baik itu Bank Syariah maupun Bank Konvensional menawarkan program KPR dengan skema pembiayaan yang cukup beragam,  mulai dari cicilan tetap, uang muka hingga jangka waktu nya.Bahkan ada juga Bank yang menawarkan program KPR tanpa uang muka, masyarakat harus memperhatikan beberapa hal mengenai program KPR tanpa uang muka ini. Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Maurin Sitorus memberikan beberapa penjelasan seperti yang dilansir pada halaman Kompas Ekonomi. [caption id="attachment_5736" align="aligncenter" width="733"]Resiko KPR tanpa Dp Resiko KPR tanpa Dp[/caption] Pertama, mengenai Komitmen Kepemilikan Rumah , Apabila Kredit KPR itu tanpa DP maka owner ownership debitur kredit rumah menjadi rendah. Hal itu juga terkait dengan aspek kedua yaitu besaran cicilan dan kemampuan membayar dari debitur itu sendiri dan apabila tanpa DP maka secara otomatis cicilan kredit akan semakin besar. Contohnya misalkan, anda ingin mengajukan kredit rumah sebesar Rp 100 juta dengan DP 30% atau (Rp30 Juta) maka sisa yang harus anda angsur adalah sebesar Rp70 juta, maka bunga KPR lima persen dari Rp 70 juta sekitar Rp 3,5 juta dengan tenor 15 tahun (misalkan) maka debitur harus mencicil sebesar Rp 408.334 per bulan (Rp 73,5 juta dibagi 180 bulan). Akan tetapi apabila anda mengajukan KPR dengan skema kredit tanpa DP, maka beban bunganya saja sudah berbeda, yaitu 5 persen dikalikan Rp 100 juta atau sebesar Rp 5 juta. Sehingga dengan asumsi tenor yang sama 15 tahun, maka debitur harus mencicil sebesar Rp 583.334 per bulan (Rp 105 juta dibagi 180 bulan). Memang menangnya anda tidak perlu mengumpulkan uang 30% untuk DP nya. Menurut Maurin, kredit rumah dengan cicilan yang lebih tinggi maka akan menimbulkan masalah nantinya, karena ketentuan besaran cicilan itu 35% dari pendapatan. Mengapa hanya 35%, karena setiap anda punya kebutuhan lain seperti biaya hidup, biaya sekolah anak dan lainnya. Apabila anda mengajukan KPR dengan cicilan diatas 35% dari pendapatan, maka ketika anda ada tanggungan untuk biaya pendidikan dan cicilan rumah yang mahal maka anda akan memperiortias kan untuk bayar sekolah, sehingga cicilan rumah diatas 35% dari pendapatan tersebut akan menimbulkan masalah kredit macet. Ketika kredit macet maka selain anda, bank pun akan memiliki masalah dan juga menimbulkan perekonomian menjadi masalah juga. Memang terlihat sepele dan simpel tapi bisa menjadi rumit ketika itu terjadi.Bagaimana jika tenor atau jangka waktu pinjaman lebih panjang, misal menjadi 30 tahun. Sehingga cicilannya menjadi lebih ringan?Nantinya hal itu tentu saja akan berpengaruh terhadap hitung-hitungan besaran cicilan. Namun, perlu diperhatikan juga kondisi atau daya tahan perbankan dalam hal pembiayaan dan risikonya. Perbankan akan dikontrol ketat, rasio kredit macet enggak boleh tiga persen, harus di bawah itu. Jadi, itu (program) harus ekstra hati-hati menetapkan.

Silahkan Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.